Bab 2 Persiapan Peralatan Memandikan Layon dan Sesajen
Bab 2 Persiapan Peralatan Memandikan Layon dan Sesajen
Sebelum melaksanakan pemandian jenazah, segala sesuatu yang diperlukan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan kesungguhan dan ketulusan hati, karena setiap benda yang digunakan bukan sekadar alat biasa, melainkan sarana penyucian yang penuh makna sakral. Tempat yang dipergunakan untuk memandikan jenazah disebut Pepaga atau alas, sebaiknya memakai dua lembar daun pisang Gedeng yang masih utuh. Pepaga ini dipasang di halaman rumah, di bawah atap yang didirikan khusus, lalu ditutup dengan kain putih, dan di atasnya ditulisi atau diberi tanda Sraddha, sebagai penghormatan terakhir kepada orang yang telah berpulang.
Dalam upacara pemandian ini dipergunakan tiga jenis air yang masing-masing memiliki sifat dan makna tersendiri. Pertama adalah air Cendana, air yang sudah diberi ramuan Cendana agar harum dan suci. Kedua adalah air Anyar, yang diambil langsung dari sumbernya yang jernih dan mengalir, melambangkan kesucian yang baru dan murni. Ketiga adalah air Kumkuman, air yang dicampur dengan bunga-bunga harum dan minyak wangi, sebagai wujud keindahan dan penghormatan tertinggi yang dapat diberikan kepada seseorang yang telah mendahului.
Alat-alat pembersihan yang disiapkan pun sederhana namun bermakna mendalam, semuanya diambil dari alam yang disucikan. Ambuh atau sikat terbuat dari pucuk kembang sepatu yang diambil dengan hormat, melambangkan kelembutan hati yang membersihkan segala kekotoran. Minyak wangi maupun minyak kelapa digunakan untuk menghaluskan dan menyejukkan tubuh, tanda kasih sayang yang tak berkurang meski seseorang telah tiada. Sisig atau sikat gigi terbuat dari dahan pohon yang dibakar hingga hangus, melambangkan pembersihan sisa-sisa kewajiban perkataan yang telah selesai diemban. Kekosok atau alat penggosok tubuh dibuat dari tepung beras yang dicampur kunyit dan beras, berwarna putih bersih dan kuning keemasan, tanda kesucian dan keabadian. Tepung tawar terbuat dari beras yang ditumbuk halus, kadang dicampur daun Dadap, sebagai sarana penolak bala dan penyucian. Biji atau butiran beras yang sudah dicuci bersih dicampur dengan air cendana dan bunga harum, menjadi perlambang kehidupan yang terus berlanjut meski raga telah tiada. Seluruh peralatan tersebut diletakkan di atas Tangkih, dilengkapi dengan sisir, cermin, daun Intaran, daun Tuung bola, Suwah atau Petat, Waja, sabun, serta benda-benda lain yang diperlukan, semuanya disusun dengan rapi dan penuh rasa hormat.
Kain yang digunakan untuk menutup dan membungkus jenazah pun telah ditentukan tata caranya. Kain putih dibentangkan sebagai alas, di atasnya diletakkan kain Tapih, Kamben, Sabuk, Udeng, pakaian dan perhiasan yang biasa dipakai semasa hidup, serta bunga-bunga dan daun-daunan yang melambangkan keindahan dan kesuburan. Kain lain dibentangkan untuk menutup tubuh jenazah dengan sopan, disesuaikan dengan adat dan kebiasaan keluarga. Rantasan kain putih dan kain anyar melambangkan kesucian yang menyertai perjalanan roh. Bunga dan Kwangen diletakkan di sekeliling sebagai pengharum sekaligus penghormatan. Tikar yang digunakan pun terbuat dari daun pandan atau bahan alami lainnya, dan tali pengikat dibuat dari cabikan daun sabut, mengikuti cara yang diajarkan leluhur. Lembar kain yang biasa disebut kain Rurub disiapkan untuk membungkus jenazah dengan rapat dan penuh kasih sayang.
Air suci atau tirta yang dipergunakan untuk memandikan diambil dari sumber-sumber yang dianggap sakral: dari Sanggah Kemulan, dari Sanggah Merajan, dari Sanggah Kawitan, dari Pura Kahyangan Tiga, maupun dari Pranda atau Siwa. Tirta tersebut dipercikkan kepada jenazah di jalan sebelum dibawa ke tempat pemakaman, sebagai penyucian terakhir sebelum dikebumikan. Perlu diingat bahwa tirta yang sudah dipakai tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan harus dikembalikan ke tempat yang layak, karena kesucian yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.
Segala persiapan ini mengajarkan kita satu hal yang paling berharga: ilmu pengetahuan yang dipelajari dan diamalkan dengan tulus nilainya jauh lebih tinggi daripada harta benda apa pun yang dimiliki. Segala tata cara yang diturunkan leluhur bukan sekadar aturan yang harus diikuti, melainkan jalan yang menuntun kita untuk tetap menghormati mereka yang telah pergi, menjaga ikatan kasih sayang yang tak terputus oleh kematian, dan menyadari bahwa setiap perlakuan yang tulus diberikan kepada jenazah adalah cerminan Sraddha Bakti, dan kasih yang kekal abadi.
Komentar
Posting Komentar