Bab 3 Memandikan Layon.

Bab 3 Memandikan Layon.
 
Sebelum jenazah dibawa ke tempat pemandian, terlebih dahulu diadakan acara Nanginin atau permohonan keselamatan dan petunjuk, diiringi dengan kidung yang biasa dinyanyikan dengan Wirama Girisa, Atha Sêdêng, sebagai pembuka yang menandai kesakralan momen perpisahan ini. Setelah itu, jenazah dipindahkan ke tempat yang telah disiapkan, diletakkan di atas Pepaga dengan posisi kepala mengarah ke timur atau ke arah gunung, sesuai tata cara yang diwariskan leluhur. Kain penutup dibuka perlahan, dan mulailah proses pemandian dengan urutan yang tertib, mengikuti irama Wirama Girisa Lelayungan yang menuntun setiap gerakan dengan penuh khidmat.
 
Langkah pertama adalah menutup bagian kemaluan dengan sopan; jika yang berpulang laki-laki, maka kerabat laki-laki yang menutupi, dan jika perempuan, maka kerabat perempuan yang melakukannya, sebagai wujud penghormatan terhadap kesucian diri. Selanjutnya adalah merawat rambut, disisir dengan lembut, dibersihkan, diberi minyak, lalu disisir kembali hingga rapi, ditaruh rapi ke arah dahi atau ke samping dengan alang-alang. Wajah dibersihkan dengan sabun hingga bersih sepenuhnya, lalu dibilas dengan air yang dicampur Arang Jaja Uli, air yang dipercaya mampu menyerap segala kekotoran lahir dan batin. Seluruh tubuh kemudian dimandikan dengan air bersih dan air Kumkuman yang harum, lalu dibilas dengan air putih yang jernih, melambangkan kesucian yang menyertai perjalanan roh. Kuku tangan dan kaki dibersihkan, lalu dibungkus satu per satu dengan daun Dadap, sebagai perlindungan dan penyucian. Tubuh diolesi bedak yang menyejukkan, wajah dihias dengan indah, dan kening diberi tanda suci berupa kunyit, tanda kebesaran dan kesucian diri. Tikar yang digunakan diganti dengan yang baru atau ditutup kain putih, lalu jenazah dipakaikan pakaian dengan rapi, disesuaikan dengan kebiasaan semasa hidupnya.
 
Kepala diletakkan di atas bantal yang dilapisi kain putih, disusun berbentuk segitiga, dan seluruh tubuh diolesi minyak, dibersihkan, dan dirapikan dengan penuh kasih sayang. Wajah diolesi telur ayam, disisir dengan Lidi, dan diikat alang-alang dari kepala hingga ujung kaki sebagai tanda keutuhan. Seluruh tubuh dipercikkan dengan air Kumkuman yang harum, lalu disucikan dengan Tirta Panglukatan dan Pangringkes dari sumber-sumber suci, dan ditutup dengan kain itik-itik yang bermotif sakral. Kemudian dipakaikan pula kemaluan dan Kwangen, serta Kwangen diletakkan di bagian-bagian tubuh yang ditentukan, masing-masing dengan jumlah dan perlambang yang telah ditetapkan: di ubun-ubun satu buah dengan uang sebelas Keping, di tangan kanan dan kiri masing-masing satu buah dengan uang lima Kepeng, di dada satu buah dengan uang sebelas Kepeng, di ulu hati satu buah dengan uang sebelas Kepeng, di dahi satu buah, di pusar satu buah, di kemaluan laki-laki tiga buah dan perempuan tiga buah, di kaki kanan dan kiri masing-masing dua puluh satu buah dengan uang lima Kepeng, di lambung kanan dan kiri masing-masing delapan buah dengan uang lima belas Kepeng, dan di bantal diletakkan tujuh Kwangen dengan uang Kepeng sebanyak dua ratus dua puluh lima Kepeng, semuanya mengandung doa dan harapan agar perjalanan roh diberkati dan dilindungi.
 
Setelah itu dipasang kelengkapan Sawa atau pakaian penghormatan terakhir: kaca di mata, Waja di gigi, Monmon di mulut, Daun Intaran di kening atau alis, daun delem di pipi, bunga melur di hidung, bunga kelor pada taring, sekeping besi di tangan kanan dan kiri, sirih hitam di telapak tangan, sirih putih di telapak kaki, daun terung bola di kemaluan, angget-angget di pusar, gempong di dada, kapur dan pinang di samping, serta sikapa di pinggang. Malem di telinga, bija di dahi, dada, punggung, pundak, tangan, dan kaki, sebagai tanda kesempurnaan tubuh yang telah kembali suci. Wajah ditutup dengan Anggkeb Rai, lalu dipakaikan pakaian lengkap dengan rapi. Setelah semua terpasang dengan baik dan tertib, kembali dipercikkan tirta suci dari Sangggah Kemulan, Merajan, Kawitan, Kahyangan Tiga, serta tirta Pamargi dari Pranda atau Siwa, yang dibawa hingga ke tempat pemakaman, agar kesucian menyertai langkah terakhir hingga ke tempat peristirahatan kekal.
 
Jenazah kemudian dibungkus kain putih; jika laki-laki dilipat ke kiri, jika perempuan ke kanan, diikat tali Belulang, lalu diletakkan di atas tikar dan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir, disusun dengan kepala mengarah ke timur atau ke gunung, ditutup kain, dan dihias sesajen di sekelilingnya. Di sinilah dilakukan persembahyangan perpisahan, dipimpin oleh Sulinggih atau Pemangku, dimulai dengan Sembah Puyung, sembah kepada Surya, sembah kepada Sang Hyang Tiga Wisesa, dan sembah terakhir kepada jenazah sebagai penghormatan yang tulus, memohon ampun kepada Ida Sang Hyang Widhi agar yang berpulang diterima sesuai dengan karmanya. Sembah dilanjutkan secara bergilir oleh seluruh keluarga, tangan yang menyentuh Kwangen di bahu dan dada sebagai tanda perpisahan yang tak terucap, doa yang mengalir dari hati yang paling dalam. Perlu diketahui bahwa tata cara ini sedikit berbeda di setiap tempat; ada yang melaksanakannya sepenuhnya di Pepaga, ada pula yang langsung berkumpul di tempat jenazah beristirahat, dipimpin oleh anggota keluarga terdekat. Semua perbedaan itu bukanlah perpecahan, melainkan kekayaan warisan leluhur yang sama-sama tujuannya satu: mengantar yang berpulang dengan hormat, kasih, dan doa yang tak terputus.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 1 Baru Meninggal

Bab 2 Persiapan Peralatan Memandikan Layon dan Sesajen