Bab 4 Ke Kuburan
Bab 4 Ke Kuburan
Setelah seluruh rangkaian kegiatan di rumah selesai dilaksanakan dengan tertib, jenazah pun dibawa menuju tempat peristirahatan terakhir di kuburan. Di sepanjang perjalanan, kaki jenazah mengarah ke depan, sementara di hadapannya berjalan orang-orang yang membawa api, dupa, serta sesajen yang disusun dengan rapi, diiringi nyanyian Indrawangsa, Mamwit... yang mengalun lembut sebagai pengantar perpisahan. Setiap kali melewati tempat suci — Sanggah, pura, maupun persimpangan jalan di desa — jenazah dipersembahkan, ditandai dengan diputar tiga kali ke arah kiri sebagai tanda penghormatan dan permohonan perlindungan. Tiba di tempat pemakaman, jenazah kembali diputar tiga kali ke kiri sebelum diturunkan ke liang lahat, yang telah disiapkan sebelumnya dengan rapi. Setelah diletakkan di dalam lubang, tanah ditimbun perlahan hingga terbentuk gundukan, lalu ditancapkan dua batang bambu — satu di sebelah kiri dan satu lagi di sebelah kanan — sebagai tanda peringatan sementara. Di bagian kepala didirikan Sangggah Tawang, tempat diletakkannya sesajen dan persembahan kepada Sang Hyang Surya Raditya. Di samping gundukan juga disiapkan persembahan berupa suguhan, berupa Soda, dan segala sesuatu yang dipandang perlu. Dengan selesainya seluruh rangkaian ini, upacara Sawa Prateka Mapendem pun dianggap telah tuntas dan selesai.
Selama prosesi ini berlangsung, kita menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang ditemukan di antara berbagai daerah di Bali, hal yang wajar karena setiap tempat mewarisi kebiasaan leluhur dengan caranya masing-masing. Beberapa desa memegang teguh pandangan bahwa seseorang yang meninggal dunia, baik dewasa maupun anak-anak, sesungguhnya telah kembali menjadi bagian dari Ida Sang Hyang Widhi, sehingga layak langsung dikuburkan tanpa tertunda. Di tempat lain, susunan pakaian dan perlengkapan yang dikenakan belum tentu seragam, bergantung pada tradisi masing-masing keluarga. Lambang atau tanda yang dipasang di atas jenazah pun beragam; ada yang menyertakan tanda-tanda khusus, ada pula yang cukup dengan kain putih yang bersih dan suci.
Cara memandikan dan merawat jenazah juga berbeda-beda menurut kebiasaan setempat. Ada yang melaksanakan seluruh proses pemandian di Pepaga, ada pula yang langsung di tempat peristirahatan. Cara mengenakan Kwangen dan penghormatan pun beragam, ada yang dilakukan di tempat pemandian, ada yang dilanjutkan di tempat penguburan. Pemakaian kain penutup wajah pun berbeda; di daerah Buleleng lazimnya kain putih, sementara di Bali selatan lebih banyak menggunakan kain hitam. Arah memutar jenazah sebelum dikuburkan juga berbeda; ada yang mengikuti arah jarum jam, ada pula yang memutar ke kiri atau ke kanan, bergantung pada kebiasaan leluhur yang dipegang. Bagi yang belum melewati upacara Nyekah, jenazah diputar ke kiri sebagai pengembalian unsur-unsur ke alam semesta, dan bagi yang sudah menyelesaikan upacara tersebut, diputar ke kanan karena dianggap telah bersatu dengan kesucian dewata.
Jumlah dan susunan Urus-Urus atau tanda di gundukan pun beragam. Ada yang menancapkan dua bambu di bagian kepala dan satu di bagian kaki, yang melambangkan wajah sapi atau Gomukha, mengingatkan kita pada arah dan tujuan perjalanan roh. Di tempat lain, pola yang digunakan berbeda, dengan lambang tiga sudut yang melambangkan Tri Hita Karana — keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Letak dan susunan jenazah di dalam liang lahat juga berbeda; ada yang dimandikan dan dibersihkan terlebih dahulu di tempat peristirahatan, ada yang hanya dirapikan saja, dan ada yang melaksanakan pembersihan ganda, baik di rumah maupun di tempat penguburan. Cara merawat kuku tangan dan kaki pun beragam, ada yang dibungkus daun Dadap di tempat pemandian, ada yang disesuaikan dengan tata cara di tempat penguburan.
Mengenai kidung dan doa yang dihaturkan, ada yang melantunkan Kidung Pitra Yadnya, ada pula yang menyertakan Kidung Dewa Yadnya, semuanya tujuannya sama yaitu memohon keselamatan dan kebahagiaan bagi yang telah berpulang. Pemasangan sesajen di Sangggah Tawang juga dilaksanakan pada hari tertentu sesuai kebiasaan, ada yang langsung setelah penguburan, ada yang dilanjutkan pada hari ketujuh ada juga Ngatelun atau tiga hari.
Perbedaan-perbedaan ini bukanlah hal yang perlu diperdebatkan atau diperselisihkan, justru sebaliknya, kekayaan tradisi inilah yang menjadi keindahan budaya kita. Yang terpenting bukanlah keseragaman bentuk, melainkan ketulusan hati dan kesakralan niat dalam melaksanakan bakti kepada leluhur. Setiap langkah yang diambil, setiap doa yang diucapkan, setiap persembahan yang dihaturkan, adalah wujud kasih sayang yang tak terputus, pengingat bahwa kematian bukanlah perpisahan yang memutuskan segalanya, melainkan perjalanan menuju keabadian yang senantiasa didoakan dan diiringi oleh kasih orang-orang yang ditinggalkan. Marilah kita menjaga persatuan dan saling menghormati perbedaan ini, karena itulah penghormatan tertinggi yang dapat kita berikan kepada leluhur kita.
Komentar
Posting Komentar