Bab 5 Makna Sarana dalam Sawa Prateka

Bab 5 Makna Sarana dalam Sawa Prateka
 
Setiap benda yang disiapkan dan dipasang pada jenazah bukan sekadar benda biasa, melainkan sarana yang sarat makna, mengandung pesan mendalam tentang kehidupan, kematian, dan perjalanan roh menuju keabadian. Cermin yang diletakkan mengandung makna agar Sang Atma senantiasa menyadari perjalanan hidupnya, melihat kembali segala perbuatan baik maupun kurang baik yang pernah dilakukan, sehingga menjadi bekal yang sejati saat melangkah menuju alam baka, menuju Suraloka yang penuh cahaya dan kebahagiaan.
 
Jenazah dibaringkan menghadap ke timur, karena bagi umat Hindu arah timur adalah tempat matahari terbit, lambang kelahiran kembali, cahaya yang tak pernah padam, dan harapan yang senantiasa menyertai perjalanan roh. Kepala diarahkan ke arah gunung, ke tempat yang tinggi dan suci, di mana diyakini para Dewa bersemayam, agar roh yang berpulang senantiasa di bawah lindungan dan bimbingan kekuatan yang Maha Agung.
 
Daun intaran diletakkan di alis, dan besi di kaki, sebagai perlambang bahwa di masa yang akan datang, jiwa yang telah berpulang dapat menjelma kembali menjadi manusia yang sempurna, terhindar dari kelahiran kembali ke dalam keadaan yang rendah atau menderita. Waja atau emas diletakkan di gigi, melambangkan agar sifat-sifat kemuliaan dan kebaikan yang pernah dimiliki tetap terjaga, tidak hilang, dan menjadi benih yang tumbuh kembali dalam kehidupan mendatang. Kukunya dibersihkan dan diolesi ramuan dari daun dadap, agar segala sifat kekuatan dan keperkasaan yang pernah ada di dunia ini tidak lenyap, melainkan diubah menjadi kekuatan batin yang luhur, sehingga kelak terlahir kembali sebagai manusia yang berbudi luhur, bijaksana, dan penuh kasih sayang.
 
Pepaga atau alas tempat jenazah dibaringkan dibuat dari bambu, yang melambangkan sahabat sejati yang tak pernah meninggalkan, tetap berdiri tegak meski ditiup angin kencang. Mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan yang dilakukan selama hidup adalah yang akan mengantar kita ke tempat yang sejati — perbuatan baik membawa ke Sorga, perbuatan kurang baik membawa ke arah yang lain.
 
Masadsadan atau perhiasan yang diletakkan di tubuh pun mengandung makna yang indah. Daun alang-alang dipercikkan dengan tirta amerta, karena daun ini dianggap suci dan mengandung sifat menyehatkan, penyembuh segala luka lahir maupun batin, lambang kesucian yang menyegarkan kembali roh yang telah berpisah dari raganya. Sabut kelapa yang dijepit melambangkan kehidupan yang berlapis-lapis, bahwa di balik segala kesulitan dan kesusahan, tersimpan kebaikan yang akan ditemukan pada waktunya, bagaikan minyak yang dicari dari dalam kelapa. Telur yang diletakkan melambangkan benih kehidupan yang baru, warna putih dan kuningnya adalah lambang kesucian dan kebijaksanaan, harta yang paling berharga yang tak akan pernah hilang.
 
Tepung tawar yang terbuat dari daun intaran, beras, dan kunyit, dijadikan sarana penyucian terakhir, berfungsi membersihkan segala kekotoran yang melekat, menyeimbangkan kembali unsur-unsur dalam diri, sehingga roh berangkat dalam keadaan suci, tenang, dan seimbang. Semua ini bukan sekadar kebiasaan yang diturunkan begitu saja, melainkan warisan leluhur yang mengajarkan kita: bahwa setiap benda yang kita sentuh, setiap doa yang kita ucapkan, setiap perlakuan tulus yang kita berikan kepada mereka yang berpulang, adalah wujud kasih yang tak terputus, jembatan yang menghubungkan dunia yang terlihat dengan dunia yang tak terlihat, dan pengingat bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan peralihan menuju kehidupan yang sejati dan abadi.
 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 1 Baru Meninggal

Bab 2 Persiapan Peralatan Memandikan Layon dan Sesajen